BERTOBAT LEBIH BAIK DARI MEMPERSEMBAHKAN KORBAN - (Pembahasan Yesaya 1:10–20)

Pendahuluan

Kitab Yesaya pasal 1:10-20 dituliskan bahwa Tuhan tidak berkenan pada ibadah yang bersifat lahiriah tanpa perubahan hati. Bangsa Israel pada waktu itu rajin mempersembahkan korban, menjalankan ritual, dan mengikuti hari-hari raya. Namun sangat disayangkan, kehidupan mereka penuh dengan dosa, ketidakadilan, dan kemunafikan. Melalui nabi Yesaya, Tuhan Allah menegur mereka dengan keras bahwa pertobatan sejati jauh lebih penting daripada ritual korban yang kosong. Pesan ini sangat relevan bagi kita saat ini, karena Tuhan menghendaki ibadah yang lahir dari hati. Murni dan hidup yang berkenan.

 

Pembahasan Per Ayat (Yesaya 1:10–20)

Ayat 10
“Hai pemimpin-pemimpin Sodom, dengarkanlah firman TUHAN; hai rakyat Gomora, perhatikanlah pengajaran Allah kita.”
👉 Tuhan menyamakan bangsa Israel dengan Sodom dan Gomora, kota yang terkenal karena dosa dan kehancurannya. Ini menunjukkan betapa beratnya dosa bangsa Israel. Walaupun mereka adalah umat pilihan, tetapi karena hidup dalam kejahatan, mereka tidak berbeda dengan bangsa fasik.

Ayat 11
“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak? firman TUHAN; Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan...”
👉 Tuhan menolak korban yang banyak, sebab korban itu tidak diiringi dengan ketaatan dan pertobatan. Ritual tanpa hati yang bersih tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Ayat 12
“Apabila kamu datang untuk menghadap di hadapan-Ku, siapakah yang menuntut itu dari tanganmu, sehingga kamu menginjak-injak pelataran-Ku?”
👉 Tuhan menegur bahwa kehadiran mereka di rumah Tuhan hanya sebatas formalitas. Mereka datang ke Bait Allah tanpa kerendahan hati, hanya menginjak-injak halaman-Nya tanpa makna sejati.

Ayat 13
“Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku...”
👉 Persembahan yang seharusnya harum malah menjadi jijik di hadapan Tuhan, sebab dilakukan dengan hati yang najis. Ibadah lahiriah tanpa keikhlasan dan kehidupan yang benar hanya menimbulkan murka Tuhan.

Ayat 14
“Perayaan-perayaanmu yang baru dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya...”
👉 Bahkan hari raya keagamaan yang biasanya dianggap mulia pun menjadi sesuatu yang dibenci Tuhan, karena orang Israel menjadikannya rutinitas kosong, bukan kesempatan untuk mendekat diri kepada Allah.

Ayat 15
“Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan wajah-Ku...”
👉 Tuhan menolak doa mereka karena tangan mereka penuh dengan darah. Artinya, mereka memang berdoa tetapi tetap hidup dalam dosa. Yaitu perbuatan yang sudah dilakukan oleh tangan mereka sendiri (ketidakadilan dan kekerasan). Doa tanpa pertobatan sejatinya tidak didengar oleh Tuhan.

Ayat 16
“Basuhlah, bersihkanlah dirimu; jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku...”
👉 Inilah panggilan pertobatan. Tuhan meminta umat-Nya untuk menyucikan diri, bukan hanya lewat ritual, tetapi dengan membuang dan meninggalkan perbuatan jahat.

Ayat 17
“Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”
👉 Pertobatan sejati diwujudkan dalam tindakan nyata: menegakkan keadilan, menolong yang lemah, membela hak yatim dan janda. Tuhan lebih berkenan kepada hidup yang penuh kasih dan keadilan daripada ribuan korban bakaran.

Ayat 18
“Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju...”
👉 Ayat ini adalah "undangan" penuh kasih. Tuhan tidak hanya menegur, tetapi juga membuka jalan pengampunan. Dosa sebesar apapun bisa diampuni jika ada niat untuk bertobat dengan sungguh-sungguh.

Ayat 19–20
“Jika kamu baik-baik mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu menolak dan memberontak, kamu akan dimakan oleh pedang...”
👉 Tuhan memberi pilihan: berkat bagi yang taat dan kehancuran bagi yang memberontak. Pertobatan membawa kehidupan, sementara kekerasan hati membawa hukuman.


Kesimpulan

Yesaya 1:10–20 menegaskan bahwa Tuhan lebih menghendaki pertobatan sejati daripada persembahan korban ritual. Ibadah yang berkenan di hadapan-Nya adalah ibadah yang lahir dari hati yang bersih, hidup yang penuh kasih, serta tindakan nyata yang membela keadilan. Tuhan membenci kemunafikan, tetapi Ia penuh kasih dan selalu membuka pintu pengampunan bagi yang mau kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, sebagai umat percaya, marilah kita tidak hanya beribadah secara lahiriah, melainkan sungguh-sungguh untuk bertobat dan hidup dalam kebenaran.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengupas Chamber No. 9: Kamar Refleksi dari Inspectah Deck

Ketika Real Madrid Kehilangan Taji: Arsenal Melaju Penuh Keyakinan ke Semifinal UCL

"Crows" - Manga yang Layak Dijadikan Anime