Pembahasan Alkitab: Perceraian (Matius 19:1–12)
Shalom!
Pada kesempatan kali ini,
saya berkerinduan untuk membahas sebuah topik dalam Alkitab yang (terkadang)
disepelekan oleh Anak-anak Tuhan diluar sana. Kiranya melalui tulisan ini,
dapat memberikan inspirasi dan hikmat agar dapat di tanamkan dalam hati pikiran
masing-masing dari kita. Selamat membaca, Yesus Kristus memberkati selalu!
Ayat 1–2
“Setelah Yesus selesai
dengan segala pengajaran-Nya itu, Ia berangkat dari Galilea dan tiba di daerah
Yudea di seberang Sungai Yordan. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia,
dan Ia menyembuhkan mereka di sana.”
Pembahasan:
Bagian ini menjadi latar belakang peristiwa. Yesus sedang dalam perjalanan
pelayanan dan tetap melakukan dua hal utama:
- Mengajar
- Menyembuhkan
Ini menunjukkan bahwa
setiap pengajaran-Nya, termasuk tentang perceraian, lahir dari kasih dan
kepedulian terhadap manusia, bukan sekadar aturan hukum.
Ayat 3
“Maka datanglah
orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia...”
Pembahasan:
Asal tahu saja, Orang Farisi tidak datang untuk belajar, tetapi untuk mencobai
Yesus. Pertanyaan mereka tentang perceraian sebenarnya adalah jebakan
teologis.
Isu perceraian pada waktu
itu memang kontroversial, karena:
- Ada yang mengizinkan perceraian
karena alasan apa saja
- Ada yang membatasi hanya karena
perzinahan
Yesus tidak terjebak pada
debat hukum, tetapi mengarah ke rencana Allah sejak awal.
Ayat 4–6
“Tidakkah kamu baca,
bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan
perempuan...”
Pembahasan:
Yesus mengutip penciptaan (Kejadian 1:27) untuk menunjukkan prinsip dasar
pernikahan:
- Pernikahan adalah inisiatif Allah
- Laki-laki dan perempuan menjadi satu
daging
- Apa yang dipersatukan Allah tidak
boleh diceraikan manusia
Intinya:
Perceraian bukan bagian dari rencana awal Allah. Pernikahan dimaksudkan untuk kesatuan
dan keutuhan, bukan perpisahan.
“Mengapa Musa
memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika menceraikan isteri?”
Pembahasan:
Sama seperti yang Yesus lakukan, Orang Farisi juga mengutip hukum Musa yang
terdapat pada Ulangan 24:1-4 untuk membenarkan perceraian.
Yesus menjelaskan di
bagian kalimat
”karena ketegaran hatimu
Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah
demikian.”
· Musa
mengizinkan perceraian karena ketegaran hati manusia (sikap yang keras
kepala)
· Itu
bukan kehendak Allah sejak awal
👉 Artinya:
Perceraian adalah kompromi terhadap dosa manusia, bukan desain dan
rencana Allah.
Ayat 9
“Barangsiapa menceraikan
isterinya, kecuali karena zinah...”
Pembahasan:
Ini adalah ayat yang paling sering dibahas.
Yesus menegaskan:
- Perceraian tidak diperbolehkan
dengan atau karena alasan apapun
- Pengecualian: perzinahan
Namun tetap penting untuk dipahami:
- Ini bukan perintah untuk bercerai
- Ini adalah pengakuan atas kondisi
yang sangat rusak dalam hubungan
👉 Prinsipnya:
Allah mengutamakan kesetiaan dan pemulihan, bukan perpisahan.
Ayat 10
“Jika demikian halnya
hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.”
Pembahasan:
Murid-murid berkata dengan demikian, karena standar tinggi yang disampaikan
oleh Yesus.
Mereka jadi merasa bahwa:
- Pernikahan jadi sangat serius
- Tidak bisa dianggap hal yang “ringan”
👉 Ini menunjukkan bahwa:
Pernikahan bukan keputusan emosional semata, tetapi komitmen seumur hidup.
Ayat 11–12
“Tidak semua orang dapat
mengerti perkataan itu...”
Pembahasan:
Yesus menjelaskan bahwa:
- Tidak semua orang dipanggil untuk
menikah
- Ada yang hidup selibat (tidak
menikah) untuk Kerajaan Allah
Amanlah bagi kita untuk berteori bahwa memang ada alasan seseorang untuk tidak menikah. Namun menurut saya pribadi, kategori dibawah ini hanya ada tiga saja yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu:
- karena kondisi lahir
- karena keadaan hidup
- karena panggilan rohani
👉 Intinya:
Baik menikah maupun tidak menikah adalah panggilan dari Tuhan, bukan
sekadar pilihan pribadi.
Kesimpulan Utama
Dari Injil Matius
19:1–12, kita belajar:
- Pernikahan adalah rancangan Allah
sejak awal
- Perceraian terjadi karena kerasnya
hati manusia
- Allah menghendaki kesetiaan, bukan
perpisahan
- Pernikahan adalah komitmen serius,
bukan hubungan sementara
- Hidup menikah atau tidak menikah
adalah panggilan ilahi
Penutup (Refleksi)
Perceraian bukanlah topik
yang mudah, dan Yesus tidak membahasnya dengan ringan. Ia mengajak kita kembali
pada hati yang memiliki kesetiaan, kasih, dan komitmen.
Di tengah dunia yang
sering menganggap hubungan bisa diganti dengan mudah, firman Tuhan mengingatkan
bahwa kasih sejati adalah kasih yang bertahan, berjuang, dan setia. Amen
untuk renungan Firman ini.
Komentar
Posting Komentar